Aisya

Menonton filem terbaru Dream Works Animation, How To Train Your Dragon membuat hati begitu teruja dengan kecomelan dan kehebatan jalan cerita yang digarap tanpa menimbulkan kebosanan di hati. Ditambah tengok dalam versi 3D, terasa sangatlah excited. Siapa yang dah tengok cerita ini dan setuju dengan saya sila angkat keyboard tingi-tingi… ngeh...ngeh...ngeh . Terasa nak membela seekor dragon la lepas ni. ;)

Jika dilihat secara kasar filem ini sama saje dengan filem animasi yang lain. Temanya sangat klise tapi sangat berkesan. Meskipun filem ini bukan filem rohani, namun secara tidak sengaja saya melihat pesan rohani di dalamnya. Banyak perkara yang boleh dipelajari melalui filem ini jika diterokai secara halusnya.

Sedikit sinopsis cerita ini

Filem ini diadaptasi daripada buku Cressida Cowell. Ia mengisahkan seorang remaja Viking, Hiccup (Jay Baruchel) adalah dari kalangan Viking yang hidup dengan memburu naga dan diketuai ayahnya sendiri, Stoick the Vast (Gerald Butler).

Sebagai anak seorang ketua pemburu naga, tentu sekali semua berharap agar Hiccup menjadi orang yang kuat. Namun harapan itu tidak menjadi kenyataan. Kerana Hiccup adalah seorang anak yang punya keperibadian yang lemah lembut, tidak garang seperti ayahnya.

Semua orang mengatakan pada Hiccup, bahawa dia harus menjadi orang lain yang bukan dirinya. Seorang anak yang berotot dan gagah yang mampu membunuh naga, dan bukannya anak laki-laki kerempeng yang tidak mempunyai apa-apa. Dengan begitu, barulah dia akan dihargai oleh bangsanya, bangsa pembasmi naga.

Hmm…tentu sekali kita tidak akan mengharapkan seorang anak laki-laki kecil kerempeng, yang mengangkat perisai pun sangat susah, akan mampu menundukkan seekor naga kan? Tapi Hiccup melakukannya. Bukan dengan otot, namun dengan otak. Hiccup punya cara lain untuk mengalahkan dan menundukan sang naga.

Cara ape ye??? Yup…dengan pendekatan kasih sayang. Dan dengan rasa kasih sayang itulah, Hiccup dapat menyelami perilaku seekor naga. Semuanya bermula apabila Hiccup terjumpa seekor naga yang dicederakannya yang kemudiannya menjadi sahabat baik dan dinamakan Toothless. Naga yang selama ini disangka jahat dan liar sebenarnya adalah makhluk yang manja. Hiccup bagaimanapun berdepan dengan tugas berat untuk membuktikan naga yang dianggap pemusnah oleh puaknya adalah haiwan yang sepatutnya dilindungi dan disayangi.

Pengarah, Chris Sanders dan Dean Deblois cukup bijak mengadunkan elemen hati dan perasaan di dalam filem ini sehingga dirasakan perhubungan yang wujud antara Hiccup dan Toothless seakan-akan hidup. Saya cukup teruja melihat keletah Toothless yang cukup comel namun bertukar ganas apabila Hiccup kesayangannya berdepan kesukaran. (Hmm..bestnya kalau ada org protect me cenggitu)

Dipendekkan cerita… penghujung cerita ini berlaku aksi pertempuran Toothless dan Hiccup dengan naga raksasa. Hiccup bersama Toothless akhirnya menjadi wira apabila berjaya menumpaskan naga raksasa tersebut.

Ok, saya tak mahu bercerita lebih...kena saksikan sendiri cerita ni. Anyway...diantara pesan rohani dalam cerita ini yang saya sempat rumuskan ialah berkenaan :

Jati diri

Jati diri Hiccup, di saat dia dipaksa untuk tidak menjadi dirinya sendiri agar orang-orang menyukainya, dia tetap berperdirian teguh menjadi diri sendiri dan akhirnya dia mampu membuatkan orang-orang ini kagum dengannya.

Berapa banyakkah dari kita yang tetap mempertahankan jati diri ditengah linkungan pengaruh masyarakat sekeliling yang sangat kuat? Tidak banyak kan. Kenapa? Tentu sekali, karena untuk mempertahankannya sangat sukar. Ia tidak mudah untuk tetap mempertahankan prinsip, apalagi menjadi diri sendiri dalam kehidupan nyata kita, apalagi disaat kita dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Jadi, tema seperti ini tentu saja mampu memberikan semangat dan kekuatan kepada saya agar “tetap menjadi diri sendiri tak kira apa sahaja yang berlaku dalam hidup dan jangan biarkan keadaan sekeliling dan orang sekeliling mempengaruhi hidup”

Kasih sayang - mampu mengubah segalanya. Yang penting memahami dan menyelami

Patuh kepada pemilik.

Awal-awalnya saya agak bingung kenapa Toothless dan naga2 yang lain menentang dan ingin menumpaskan sang naga raksasa…..padahal sebelum itu kesemuanya patuh kepadanya, malah mecari makanan kepada naga raksasa tersebut? Apakah kerana takut? Jika takut kenapa naga2 ini tidak lari sahaja ke tempat lain.Lagipun jumlah naga2 itu kan sgt banyak jadi tentu sahaja boleh menumpaskan sang naga raksasa dengan mudah. Kenapakah begitu?

….Hmmm…akhirnya saya mendapat jawapannya. Ooh…Ye kerana naga2 ini tidak punya pemilik.! Bila tiada pemilik, maka naga2 ini hanya menurut dan berada di bawah kekuasaan sang naga raksasa yang jahat itu. Tidak ada seorang pun yang bisa mengarahkannya, memberinya kekuatan di saat-saat lemah, dan melatihnya. Yang pasti….yang lemah senantiasa akan tunduk pada yang kuat.

Namun ia berubah pabila Hiccup muncul, Hiccup misalnya memberi sirip tambahan di ekor Si Toothless, agar dia bisa terbang lagi, memberinya makan setiap hari, dan mengembangkan kemampuannya, berkali-kali dari yang dia fikir dia mampu lakukan. Akhirnya si Toothless menjadi sang naga yang begitu pantas dan hebat.

Begitu jua manusia, seandainya manusia tak punya pemilik maka bagaimana? Bukankah kita ini sama saja seperti Si Toothless, seekor binatang yang tidak tahu apa-apa, dan hanya bisa berkembang apabila ada pemilik yang melatih kita? Tentu saja kita bukan binatang, kita manusia, tapi Tuhan kan pemilik kita? Tentunya bagi setiap orang yang percaya, tidak akan menyangkal pernyataan saya ini.

Hiccup memulihkan badan si naga agar bisa terbang lagi, dan bukankah itu yang terjadi juga pada setiap manusia? Pada saat kita menyerahkan diri padaNya, Dia akan memulihkan kehidupan kita yang hancur, atau sisi-sisi buruk dalam diri kita, dan memampukan kita "terbang" lebih tinggi lagi. Tanpa Hiccup, Si Toothless tidak bisa terbang, dan kalaupun bisa, dia akan selamanya berada dalam kekuasaan si naga raksasa, karena dia tidak tahu bagaimana caranya mengembangkan kemampuan agar bisa melawan si naga raksasa. Begitu jua manusia, jika tiada Pemilik yakni Yang Maha Kuasa maka kita akan senantiasa tunduk kepada kuasa yang kuat. (kuasa jahat pastinya)

Sama seperti si Toothless yang akhirnya mampu mengalahkan si naga raksasa,saya juga percaya kita akan bisa mengalahkan kuasa jahat dalam diri kita, karena seperti si Toothless yang memiliki Hiccup, kita juga memiliki yang Maha Kuasa. Dialah yang akan membentuk kita, mengembangkan kemampuan kita, menjadikan kita hebat, mengubah kita menjadi "seseorang" dengan kuasa kasihNya.


2 Responses
  1. Anonymous Says:

    dah tgk ke?


  2. Aisya Says:

    hmm....pastinya sudah.. :)